Showing posts with label Knowledge Base. Show all posts
Showing posts with label Knowledge Base. Show all posts

Monday, March 21, 2011

Ibu Hamil Mengalami Depresi Karena 'Dicueki' Suami

detik.com, Jakarta, Ibu hamil seringkali depresi karena mengalami banyak perubahan fisik maupun hormonal. Tapipenyebab paling banyak ibu hamil mengalami depresi adalah akibat tidak mendapatkan dukungan dari pasangan.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa faktor yang paling menentukan kadar depresi seorang ibu hamil adalah hubungannya dengan pasangan. Penelitian yang diterbitkan dalam BMC Public Health ini melibatkan 50.000 perempuan hamil dari Norwegia yang diminta mengisi kuesioner.

Pasangan atau suami yang tidak mendukung sangat terkait dengan kondisi depresi pada ibu hamil, sedangkan suami yang mendukung akan membuat ibu hamil lebih bisa menghadapi semua tekanan yang ada, seperti dikutip dari Healthland.Time, Senin (21/3/2011).

Penderitaan emosional yang dialami ibu hamil karena kondisinya bisa mengacu pada depresi. Depresi yang dialami selama masa kehamilan bisa berdampak pada kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah dan akibat buruk lainnya yang berimbas pada kehidupan anak nantinya.

Jika ibu hamil tidak mendapatkan dukungan dari pasangan maka ia harus menghadapi sendiri segala tekanan dan perubahan yang terjadi selama kehamilannya. Hal ini akan mempengaruhi pikiran dan suasana hatinya yang memicu stres tingkat tinggi atau depresi.

Sementara itu penelitian lain yang dilakukan oleh ilmuwan dari Columbia University menemukan bahwa ibu hamil yang depresi akan mengalami tekanan ketika melakukan tugas yang menantang mental, sedangkan ibu hamil dengan suasana hati baik tidak mengalami tekanan. Walaupun tugas yang diberikan untuk keduanya adalah sama persis.

Gejala depresi yang muncul pada ibu hamil biasanya sering merasa sedih, berkurang atau hilangnya ketertarikan pada aktivitas yang disukai, menurunnya selera dan nafsu makan, selalu merasa lelah atau kurang energi serta tidak bisa tidur dengan nyenyak. Gejala ini biasanya terjadi selama kurun waktu 1-2 minggu.

Jika ibu hamil merasakan salah satu dari gejala tersebut, sebaiknya konsultasikan dengan pasangan atau dokter untuk menghindari depresi lebih lanjut yang bisa berefek pada kondisi janin dan kehamilannya.

Mengingat efek buruk yang akan timbul jika ibu hamil mengalami depresi, maka sangat penting bagi pasangan untuk memberikan dukungan yang penuh dan positif pada ibu hamil. Dukungan dan perhatian lain dari keluarga, teman atau lingkungan juga penting untuk mencegah depresi pada ibu hamil.

Thursday, March 17, 2011

7 Hal yang Membuat Wanita Rindu Hamil

Jakarta - Cukup banyak hal menyenangkan yang dirasakan wanita saat hamil. Mulai dari lebih diperhatikan sampai tampak lebih glowing, adalah dua hal yang dialami wanita hamil.

Terlepas dari ketidaknyamanan yang dirasakan, seperti sakit punggung dan kaki kram, tetap saja, ada beberapa hal dari kondisi kehamilan yang terkadang membuat rindu. Berikut ini tujuh hal yang membuat Anda rindu untuk hamil lagi:

1. Makan Tanpa Beban

"Seorang wanita bisa makan lebih banyak saat hamil karena memang mereka makan untuk dua orang," ujar Direktur Center for Women’s Health and Sports Gynecology di Philadelpia, Mona M. Shangold. "Berapa banyak kalori yang dibutuhkan seorang ibu hamil, tergantung sebarapa aktif sang ibu dan bagaimana metabolisme tubuh," tambahnya.

2. Merasa Spesial
Wanita hamil bisa merasa spesial karena mereka adalah orang yang menjadi tempat makhluk hidup tumbuh di perut mereka. "Aku selalu bilang pada pasienku, sadarkah kalau kamu sedang membuat makhluk hidup di perutmu," ujar Dokter Kandungan asal Fakultas Kedokteran, Univeristas California, Allan Lichtman. Menurut Lichtman, tidak ada hal yang lebih spesial lagi, selain menjadi tempat berkembangnya seorang janin di dalam perut.

3. Glowing
"Kamu tambah cantik." Pernahkah Anda mendapat pujian tersebut dari teman atau kolega saat tengah hamil? Cukup banyak wanita hamil yang kerap mendapat pujian tersebut.

Menurut Lichtman, bersinarnya (glowing) wanita hamil sebenarnya lebih sebagai sebuah mitos ketimbang fakta. Namun kenyataannya, hal itu terjadi.

"Sebenarnya memang ada peningkatan sirkulasi darah, namun itu umumnya tidak terlihat di wajah," jelasnya.

4. Ngidam
Rata-rata wanita hamil akan merasakan ngidam. Ngidam bisa diartikan ingin akan sesuatu yang muncul tiba-tiba dan harus dipenuhi dengan segera. Ngidam ini biasanya menyangkut makanan atau minuman.

"Penting bagi wanita hamil untuk mendengarkan apa yang tubuh mereka mau," ujar Ahli Nutrisi Susan Kundrat.

Seorang wanita hamil terkadang ngidam makanan yang tidak biasa. Selama makanan atau minuman tersebut tidak membahayakan, menurut Susan, silahkan saja keinginan ngidam itu dipenuhi.

5. Berbelanja
Saat hamil, bisa belanja baju baru adalah salah satu kegiatan yang paling menyenangkan. Jika biasanya kita harus membatasi diri dalam berbelanja, ketika berbadan dua, mau tidak mau membeli baju baru harus dilakukan.

Bukan hanya baju untuk si ibu saja, ketika hamil, Anda pun akan dengan senang hati membeli berbagai kebutuhan si kecil. Mulai dari membeli baju, peralatan mandi, stroller, tempat tidur bayi, dan berbagai benda lainnya yang diperlukan bayi.

6. Dimanja
Kapanlagi dimanjakan suami, teman dan keluarga, kecuali saat hamil. Ketika hamil, semua orang akan jadi sangat perhatian pada Anda. Teman sekantor bisa dengan senang hati membukakan pintu untuk Anda, suami rela memijat kaki Anda yang pegal, dan ibu Anda mau membuatkan masakan spesial yang tengah diidamkan.

7. Tendangan & Gerakan Janin

Tidak ada yang bisa menggantikan perasaan seorang wanita ketika merasakan tendangan atau gerakan janin yang tengah dikandungnya. Memang seorang wanita hamil, bisa melihat bayi mereka melalui USG empat dimensi. Namun ketika janin di dalam kandungan bergerak, Anda tentu akan merasakan sesuatu yang luar biasa dan momen tersebut pun akan diingat terus. Bagaimana, apakah Anda jadi rindu hamil?
(eny/eny)

Monday, July 07, 2008

Iri Tiada Henti

Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya.

Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalankepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.

Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.

Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.

Ketika ia sedang bertengger, ia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu.

Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu. Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok… sampai Anda mulai membanding-bandingkan. Kata Sang Guru: “Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar.”

Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan. Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup. Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran dengan seimbang, tidak melekat terhadap delapan kondisi duniawi. Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap delapan kondisi duniawi. Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apa pun. Be Happy!

Thursday, May 22, 2008

Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire [2]

Diambil dari Hidayatullah.com tanpa ijin.


Kenaikan harga BBM, obral BUMN tak lain hanya untuk menjalankan agenda kapitalisme laissez-faire. Bisa-bisa, pompa bensin milik perusahaan asing bertumbuhan di Jakarta [bagian 2]

Tulisan sebelumnya menjelaskan, akibat penerapan ideologi kapitalisme-laissez-faire --atau dikenal sebagai sistem ekonomi liberal-- yang dianut pemerintah kita, dalam prakteknya, sistem ini menyebabkan orang kaya bertambah kaya, orang miskin bertambah miskin.

Raksasa Carrefour dan Kios Eceran

Hidayatullah.com--Krisis ekonomi yang menimpa Asia pada 1997, jelas momentum yang ditunggu-tunggu oleh operator utama sistem kapitalisme global – IMF, Bank Dunia, dan WTO – dan itu dengan lengkap dilaporkan Klein di dalam The Shock Doktrine. Operasi IMF di Indonesia, misalnya, ditulis detil. Bagaimana IMF yang katanya datang untuk mengobati krisis, ternyata bekerja lebih untuk kepentingan ideologi kapitalisme.

Bagaimana deregulasi, privatisasi, dan berbagai perangkat ideologi laissez-faire dipaksakan. Dan untuk itu, menurut The Shock Doktrine, IMF bisa sukses karena bekerja sama dengan kelompok Mafia-Berkeley di Indonesia yang dipimpin Profesor Widjojo Nitisastro (halaman 271). Biarlah sejarah kelak membuktikan, apakah tindakan kelompok Mafia-Berkeley itu penghianatan kepada bangsa Indonesia, atau tidak.

Sejak itu, bukan rahasia lagi kalau banyak undang-undang kita yang amat liberal disahkan DPR atas pesanan IMF. Dikabarkan sejumlah draf undang-undang disiapkan NDI (National Democratic Institute for International Affairs), organisasi yang dibentuk dan dibiayai pemerintah Amerika Serikat – dekat dengan Partai Demokrat – dengan dalih untuk menyebarkan demokrasi di negeri berkembang. Dulu NDI sempat punya ruang khusus di Gedung DPR-RI. Jadi DPR kita tinggal mengetuk palu.

Operasi IMF dalam krisis ekonomi Asia amat menakjubkan. Dalam tempo 20 bulan, terjadi 186 merger dan aquisisi (pengambil-alihan) atas perusahaan-perusahaan negeri yang dilanda krisis -- Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan -- oleh perusahaan multi-nasional, terutama dari Amerika Serikat. Itu tercatat sebagai aquisisi terbesar yang pernah terjadi di dunia. Merrill Lynch dan Morgan Stanley, perusahaan Amerika yang banyak berperan sebagai agen merger dan aquisisi itu, panen keuntungan komisi yang cukup besar.

Carlyle Group yang suka merekrut ‘’pensiunan’’ pejabat tinggi Amerika – mulai bekas Menlu James Baker sampai bekas Presiden George H.W.Bush – sebagai konsultan, memborong perusahaan telkom Daewoo dan perusahaan informasi Ssangyong. Yang disebut terakhir merupakan shalat satu perusahaan teknologi tinggi terbesar di Korea Selatan. Dengan menguasai perusahaan itu, Carlyle menjadi pemegang saham mayoritas di shalat satu bank terbesar di negeri ginseng itu.

Semua transaksi itu tak normal, atau dengan kata lain dijual obral. Sekadar contoh, perusahaan mobil Korea Daewoo yang sebelum krisis bernilai 6 milyar dollar, waktu itu diambil-alih perusahaan mobil Amerika, General Motor, hanya dengan 400 juta dollar.

ImageDi Indonesia, sistem penyediaan air minum dikavling oleh Thames Water dari Inggris dan Lyonnaise des Eaux dari Perancis. Westcoast Eergy dari Kanada menguasai proyek pembangkit listrik yang besar.

Sejak IMF menguasai Indonesia, perusahaan raksasa pengecer Carrefour dari Perancis masuk ke sini, menyapu perusahaan lokal yang sudah lama ada, seperti Golden Truly atau Hero, atau perusahaan kecil-kecil di pasar tradisional Tanah Abang dan Cipulir, yang jumlahnya begitu banyak. Nasib mereka tambah parah karena kemudian super-market raksasa dari Malaysia, Giant, hadir kemari. Dia telan Hero yang memang sudah ngos-ngosan. Itulah hasil konkret reformasi 1998.

Ternyata itu belum cukup. Belum lama, perusahaan Perancis itu membeli Alfa-Mart, super-market yang aktif masuk ke pedesaan. Dengan demikian, kini Carrefour dengan bebasnya akan menghancurkan kios eceran di desa-desa. Itulah laissez-faire yang sesungguhnya.

Karena laisses-faire, Presiden SBY lebih memilih menyerahkan proyek minyak dan gas di Cepu yang amat menguntungkan kepada Exxon-Mobil, perusahaan minyak terbesar dan tertua Amerika Serikat, daripada kepada Pertamina, perusahaan BUMN milik sendiri.

ImageTernyata setelah resep-resep IMF ditrapkan, artinya prinsip kapitalisme laissez-faire dilaksanakan, menurut The Shock Doktrine, justru penduduk miskin bertambah 20 juta orang di Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Pengangguran meledak.

Organisasi buruh internasional ILO, mencatat terjadi 24 juta penganggur baru. Itu justru terjadi pada masa puncak pelaksanaan reformasi IMF. Di Indonesia, angka pengangguran meloncat dari 4% menjadi 12%, dan dua tahun kemudian melambung tiga kali lipat. Setiap bulan ada 60.000 buruh di Thailand dan 300.000 buruh di Korea Selatan yang harus diberhentikan.

Di balik angka-angka statistik itu banyak kisah mengharukan, terutama menimpa anak-anak dan perempuan. Di pedesaan Korea Selatan dan Filipina banyak orang tua harus menjual anak gadisnya kepada pedagang manusia, untuk kemudian dijadikan pelacur di Australia, Eropa, dan Amerika Utara. Di Thailand, pejabat kesehatan melaporkan hanya dalam setahun terjadi peningkatan pelacuran anak-anak sebesar 20%. Data yang mirip terjadi di Filipina.

Tapi sudahlah, ini semua cerita masa lalu. Sekarang, krisis baru terjadi lagi karena harga minyak meningkat di atas 120 dollar/barel. Dunia kian terguncang setelah harga pangan ikut menggila. Artinya, berdasarkan tesis The Shock Doktrine, kapitalisme global dan para operatornya sekarang sedang bekerja.

Tapi di sini apalagi yang mau direformasi? Sejak 1998, Indonesia sudah menjadi shalat satu negara kapitalisme laissez-faire paling liberal di dunia. Lihatlah berbagai undang-undang yang dilahirkan DPR, semua liberal. Mulai UU Migas, UU privatisasi air, Pendidikan, Pertanahan, dan terakhir Undang-Undang Pelabuhan.

Karena liberalisme, siapa yang ingin masuk perguruan tinggi negeri harus menyediakan uang Rp 100 juta. Habis bagaimana lagi, kampus sedapat mungkin harus membiayai diri sendiri. Dengan demikian, anak petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, jangan harap bisa mendaftar ke sana. Padahal kalau tak universitas negeri kemana lagi mereka belajar untuk meningkatkan taraf hidupnya?

Artinya, dengan sistem ini orang miskin sampai kapan pun akan terus miskin. Hampir tertutup kemungkinan bagi mereka melakukan mobilitas vertikal lewat pendidikan. Inilah kemiskinan yang diciptakan oleh sebuah struktur.

Era Universitas Gajah Mada (UGM) dijuluki Ndeso karena banyak anak desa kuliah di sana, sudah berakhir. Institut Pertanian Bogor (IPB) serupa. Zaman ketika anak-anak desa dari seluruh Indonesia berlomba-lomba belajar ke sana, kini agaknya sudah menjadi nostalgia.

Perusahaan minyak Pertamina yang dulu perkasa kini sudah dirontokkan. Bulog yang dulu efektif sebagai penjamin stabilitas pangan sudah tamat riwayatnya. Bahwa akibatnya rakyat bertambah melarat dan segelintir konglomerat berlipat-ganda kekayaannya, itu soal lain.

Majalah bisnis Forbes, 13 Desember 2007, menulis sepanjang tahun lalu kekayaan para konglomerat Indonesia meloncat dua kali lipat. Sungguh fantastis. Jadi kalau BPS menyodorkan angka pertumbuhan ekonomi kita tahun ini sekian persen, percayalah, itu berasal dari pertumbuhan kekayaan konglomerat kita. Bukan pertumbuhan kekayaan rakyat banyak.

Yang paling menakjubkan adalah Menko Kesra Aburizal Bakrie. Pemilik perusahaan kelompok Bakrie itu, kekayaan bersihnya tahun lalu meroket empat kali lipat. Itu menjadikannya sebagai orang terkaya Indonesia, dengan kekayaan 5,4 milyar dollar.

Apakah Aburizal punya lampu Aladin? Sebuah artikel di Asia Times Online, 22 Juli 2006, sebenarnya sudah pernah membongkar rahasia lampu Aladin itu. Antara lain, karena politik dan bisnis di Indonesia di zaman Presiden SBY, tak terpisah melainkan menyatu.

Memang begitulah yang selalu terjadi di negeri dengan sistem laissez-faire. Begitulah Rusia di zaman Boris Yeltsin dulu. Para konglomerat dalam tempo singkat mendadak jadi kaya-raya, sampai Vladimir Putin datang menertibkannya. Para konglomerat itu kini lari ke luar negeri atau masuk penjara di Siberia. Tapi nantilah dalam kesempatan lain soal ini dibahas.

Di mata kaum kapitalisme laissez-faire, masih ada status-quo yang tersisa di Indonesia. BBM belum sepenuhnya mengikuti harga pasar dan perusahaan BUMN masih eksis. Mumpung suasana shock akibat kenaikan harga minyak dan krisis pangan masih berlangsung, sektor hilir pertambangan harus direformasi. Artinya, pemerintah harus menaikkan harga BBM, dan BUMN harus diobral. Semuanya harus dilakukan sekarang, mumpung krisis masih terjadi.

Masih kurang jelas? Silahkan berkeliling Jakarta dan sekitarnya. Lihatlah bagaimana perusahaan minyak internasional Shell, dan Petronas dari Malaysia, telah dan sedang membangun sejumlah pompa bensin raksasa. Kabarnya izin yang dikeluarkan pemerintah sudah lebih 100.

ImagepSemua pompa bensin Shell atau Petronas itu buka sampai malam dengan lampu yang terang-benderang, tapi betul-betul sepi pembeli. Seharian puluhan petugasnya yang berseragam hanya duduk-berdiri sampai capek sendiri, tak pernah melayani konsumen. Coba dicek, penghasilannya setiap bulan, mungkin tak cukup walau untuk sekadar membayar rekening listrik.

Ini terjadi karena mereka hanya menjual BBM non-subsidi yang konsumennya hanya segelintir mobil mewah milik orang kaya. Bahwa mereka terus membangun pompa bensin baru, pasti karena ada jaminan subsidi minyak akan dicabut.

Dengan demikian mereka bisa bersaing bebas dengan pompa bensin Pertamina milik pengusaha lokal yang selama ini menguasai pasar karena menjual BBM bersubsidi. Bila itu terjadi, pompa bensin multi-nasional yang raksasa itu pasti dengan mudah menelan pompa bensin lokal yang kecil-kecil. Kasus Carrefour merontokkan Hero atau pedagang Tanah Abang, akan berulang. Itu sebabnya Shell dan Petronas dengan sabar menunggu laissez-faire. Cukup jelas? [habis/www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies.

Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire

Diambil dari Hidayatullah.com tanpa ijin.

Kenaikan harga BBM, obral BUMN tak lain hanya untuk menjalankan agenda kapitalisme laissez-faire. Bisa-bisa, pompa bensin milik perusahaan asing bertumbuhan di Jakarta [bagian 1]

Oleh: Amran Nasution *

ImageHidayatullah.com--Harga bahan bakar minyak (BBM) naik akhir Mei 2008. Itu sudah keputusan Pemerintah SBY–YK. Mahasiswa bisa saja menolak dan melakukan demonstrasi merata hampir di seluruh Indonesia, dari Padang sampai Kendari, dari Jakarta sampai Ternate. Tapi harga bensin tetap harus naik.

Para ekonom atau pengamat bisa saja protes. Kwik Kian Gie siap dengan hitung-hitungan bahwa tak betul rakyat disubsidi lewat harga BBM. Pemerintah ternyata sudah memperoleh keuntungan berlipat-lipat selama ini, dengan menjual bensin Rp 4500/liter. ‘’Mau debat dengan siapa saja, di mana saja, dari dulu saya siap. Tapi mereka diam saja,’’ kata mantan Kepala Bappenas itu.

Ekonom dan anggota DPR Drajat Wibowo bisa saja bersikukuh tak ada mashalat dengan APBN sekali pun harga BBM tak naik. Ia ajari cara menyusun APBN, antara lain, dengan menunda pembayaran cicilan utang.

Dengan itu Drajat ingin menunjukkan adalah bohong pernyataan yang menyebutkan APBN akan jebol kalau harga minyak tak dinaikkan. Ia prihatin, begitu harga BBM naik harga semua kebutuhan pokok turut naik pula. Maka rakyat yang selama ini daya belinya sudah merosot, menjadi korban. Pengalaman kenaikan harga BBM tahun 2005, menunjukkan begitu.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan pemerintah tak ada artinya, rakyat tetap saja bertambah miskin. BLT tampaknya memang sekadar proyek politik pencitraan – bahwa Presiden kita pemurah – guna menghadapi pemilihan umum.

Padahal rakyat sudah amat menderita. Percuma saja Biro Pusat Statistik (BPS) memilih-milih dan memilah-milah data untuk mendukung citra pemerintah. Semua orang tahu di mana-mana sekarang rakyat makan nasi aking. Berita radio, koran dan TV menunjukkan berapa banyak anak-anak kurang gizi dan kelaparan. Di Makasar, seorang ibu hamil meninggal dunia karena berhari-hari tak tersentuh makanan. Mereka tak mungkin diselamatkan hanya dengan data BPS.

Lagi pula, apa pun data BPS, faktanya Indonesia masuk indeks 60 negara gagal 2007 (failed state index 2007) yang disusun Majalah Foreign Policy bekerja sama dengan lembaga think-tank, The Fund for Peace. Majalah itu amat berwibawa, milik The Carnegie Endowment, think-tank dengan jaringan internasional paling luas di Amerika Serikat. Salah satu pendiri majalah itu adalah Profesor Samuel Huntington, ahli ilmu politik senior dari Harvard University.

Yang hendak dikatakan, Foreign Policy bukan majalah yang diterbitkan dari pinggir got. Indonesia memang betul-betul negara gagal, satu kelompok dengan Sudan, Somalia, Iraq, Afghanistan, Zimbabwe, Ethiopia, atau Haiti. Shalat satu ukurannya: pemerintah pusat sangat lemah dan tak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot. Nah, kalau mau jujur, memang begitulah persis potret negeri kita sekarang.

Data indeks pembangunan manusia (human development index) dari badan PBB, UNDP, memberikan indikator serupa. Indonesia menduduki peringkat 107 dari 177 negara, jauh di bawah Singapore, Arab Saudi, Malaysia, atau Thailand. Malah kita di bawah Filipina, Vietnam, Palestina, atau Srilangka. Padahal Srilangka itu negeri rusuh karena pemberontakan Macan Tamil dan Palestina lebih rusuh lagi akibat penjajahan Israel.

Begitu pun kenyataannya tetap saja harga minyak harus naik. Apakah rakyat tambah menderita seperti dikhawatirkan Kwik Kian Gie atau Drajat Wibowo dan kawan-kawan, tak ada mashalat bagi pemerintah. Soalnya, ini sudah tak bisa ditawar. Ini sebetulnya untuk kepentingan ideologi.

ImageIdeologi? Barang siapa membaca buku terlaris dari Naomi Klein, The Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism (The Penguin Group, September 2007), akan terang-benderanglah motif sebenarnya di balik langkah pemerintah menaikkan harga BBM atau mengobral 37 perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) kepada asing. Itu semata-mata untuk menegakkan ideologi kapitalisme-laissez-faire, atau di sini dikenal sebagai sistem ekonomi liberal, yang dianut pemerintah kita.

Inilah sistem ekonomi pasar yang menyerahkan urusan ekonomi kepada perusahaan swasta dengan campur tangan pemerintah sebisa mungkin dihilangkan. Sistem ini menginginkan pemerintah tidur saja. Pemerintah tetap tak boleh mencampuri urusan ekonomi, sekali pun hanya untuk meningkatkan taraf hidup orang miskin.

Dalam pandangan ideologi ini, jika pemerintah mengurusi perekonomian orang miskin, itu sama artinya melakukan redistribusi kekayaan, menyebabkan orang menjadi malas dan kehilangan kreativitas. Kalau orang jadi miskin, biarkan saja miskin. Karenanya dia disebut sistem laissez-faire, dari bahasa Perancis: biarkan terjadi.

Ciri khasnya: deregulasi, pajak rendah (terutama untuk pengusaha kaya, agar mereka lebih cepat melakukan akumulasi modal untuk meningkatkan kemampuan bersaing), swastaisasi/privatisasi, anti-subsidi, anti-pengaturan upah buruh minimal, dan semacamnya.

Tentang upah buruh, misalnya, serahkan saja kepada mekanisme pasar, jangan diatur-atur pemerintah atau serikat buruh. Mekanisme pasar akan bekerja menentukan upah yang pantas untuk buruh. Artinya, semua terserah pengusaha. Karena itu belum bisa terlaksana, dunia perburuhan kita memakai sistem buruh terputus (off-sourcing), sehingga posisi tawar pengusaha kuat ketika berhadapan dengan serikat buruh.

Ideologi ini pertama kali dirumuskan ekonom Skotlandia, Adam Smith, di akhir abad ke-18. Tapi setelah ekonomi dunia dilanda krisiss dahsyat (great depression) di akhir 1920-an, mulai banyak negara meninggalkannya. Ideologi ini dituduh sebagai biang keladi kehancuran ekonomi, meski para pendukungnya selalu membela diri.

Ia kembali berkibar di awal 1980-an, ketika Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dan Perdana Menteri Inggris Margaret Teatcher mengkampanyekannya, terutama untuk menghadapi sistem ekonomi komunisme Uni Soviet, dalam perang dingin. Maka ambruknya Uni Soviet, dengan simbol rubuhnya Tembok Berlin, 1989, diklaim sebagai kehebatan sistem ini.

Dalam prakteknya sistem ini menyebabkan orang kaya bertambah kaya, orang miskin bertambah miskin. Dunia pun terus-menerus dilanda krisis ekonomi, mulai great depression sampai krisis yang melanda Asia 1997, atau Amerika Serikat sekarang.

Banyak para ahli berpendapat, multi-krisis yang melanda Amerika saat ini karena laissez-faire. George Soros, investor sukses pasar modal, termasuk berpendapat begitu. Padahal Soros justru dianggap simbol sukses kapitalisme global di tahun 1990-an.

Naomi Klein, 38 tahun, aktivis, penulis dan wartawati terkemuka Kanada, lulusan London School of Economics, berhasil mengungkap sebuah metode dari sistem kapitalisme laissez-faire. Itu dikembangkan pemenang nobel ekonomi 1976, Profesor Milton Friedman, dan pengikutnya di Chicago School of Economics, University of Chicago.

Klein menyebutnya Doktrin Kejut (The Shock Doctrine) dan itu yang ia jadikan judul buku setebal 558 halaman, dan banyak mendapat pujian. Sebuah artikel di Dow Jones Business News, Oktober 2007, menyebut The Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism (Doktrin Kejut, Bangkitnya Kapitalisme Bencana) sebagai buku terpenting tentang ekonomi di abad 21.

The Chicago Boys

Begini. Pada 2005, badai Katrina diikuti gelombang pasang meluluh-lantakkan New Orleans, kota berpenduduk 500.000 jiwa di tepi Sungai Mississippi, di tenggara Negara Bagian Louisiana. Hampir 2000 penduduk meninggal, rumah, jembatan, dan berbagai infrastruktur hancur. Inilah bencana alam dengan korban material terbesar di Amerika.

Paman Miltie – begitu Milton Friedman dipanggil hormat pengikutnya – ternyata punya pendapat tersendiri atas bencana itu. Melalui kolom di koran The Wall Street Journal, 3 bulan setelah bencana, Paman Miltie menulis, ‘’Banyak sekolah di New Orleans rusak. Begitu juga rumah tempat anak-anak berteduh. Anak-anak terpencar di seluruh negeri. Ini adalah sebuah tragedi. Ini juga sebuah peluang.’’

Bagaimana bencana begitu dahsyat disebut Profesor Friedman sebagai peluang? Ternyata itu beralasan. Hanya dalam tempo 19 bulan, ketika banyak penduduk masih tinggal di pengungsian, sebuah kompleks sekolah telah berdiri di bekas sekolah negeri (public school) yang dihanyutkan badai. Sekolah itu dilengkapi berbagai fasilitas dan guru. Tapi ia bukan lagi sekolah negeri melainkan sekolah swasta yang didirikan pemodal. Reformasi pendidikan telah terjadi dengan gampang. Tanpa badai Katrina tak mudah memprivatisasi sekolah publik itu.

Para bekas guru menyebut apa yang terjadi pada sekolah mereka sebagai perampasan lahan pendidikan. Naomi Klein menyebutnya aksi kapitalisme bencana (disaster capitalism). Ternyata sudah lebih tiga dekade Profesor Friedman dan pendukungnya yang biasa dijuluki The Chicago Boys, mentrapkan strategi itu: Menunggu datang krisis atau bencana lalu dengan cepat bergerak mereformasi status-quo.

Semua yang berbau pemerintah dijadikan swasta (swastaisasi/privatisasi), ketika orang-orang masih dirundung kaget. Krisis bisa saja terjadi karena perang, bencana alam, teror, ambruknya pasar modal, atau krisis ekonomi lainnya.

Dalam sebuah esei menarik, Friedman menulis bahwa hanya krisis – aktual atau hanya persepsi – yang bisa menghasilkan reformasi sesungguhnya untuk mengubah status-quo. Maka di New Orleans, orang bersiap-siap dengan stok makanan dan air minum, sementara para pendukung Friedman datang dengan ide-ide pasar bebas (free-market). Friedman meninggal dunia setahun kemudian, November 2006, dalam usia 94 tahun.

Dari riset Naomi Klein, diketahui bahwa pengalaman pertama Friedman mengeksploitasi krisis atau kejut (shock) terjadi pertengahan 1970-an, ketika Chili mengalami kudeta oleh Jenderal Augusto Pinochet. Negeri di Amerika Latin itu juga terkena trauma inflasi yang amat tinggi (hyperinflation). Friedman datang menasehati Diktator Pinochet untuk melakukan reformasi ekonomi dengan cepat: deregulasi, pemotongan pajak, perdagangan bebas, privatisasi BUMN, pemotongan anggaran sosial, antara lain, pemangkasan subsidi untuk rakyat miskin.

Semua dijalankan Diktator Pinochet dengan tangan besi. Maka Chili mengalami reformasi sistem ekonomi menjadi kapitalisme laissez-faire paling ekstrim yang pernah terjadi, dan dijuluki sebagai revolusi The Chicago School. Kebetulan sejumlah penasehat ekonomi diktator itu adalah bekas mahasiswa Friedman di Chicago University.

Naomi Klein mulai melakukan riset tentang ketergantungan kapitalisme pasar pada situasi krisis atau shock ketika Amerika Serikat menduduki Iraq, 2003. Penyerbuan itu betul-betul menimbulkan shock yang luar biasa bagi rakyat Iraq mau pun dunia. Lalu apa yang kemudian terjadi di negeri sosialis itu?

Luar biasa: Privatisasi massif berbagai perusahaan pemerintah, penurunan pajak sampai tinggal 15%, deregulasi dan perampingan fungsi pemerintah secara dramatis, terutama menyangkut urusan ekonomi dan praktek perdagangan bebas, sebebas-bebasnya. Friedman dan The Chicago Boys berperan dari belakang. Ia diketahui berteman akrab dengan Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan Amerika waktu itu, dan sejumlah pemikir neo-konservatif yang mengelilingi Presiden George Bush.

Coba bayangkan, militer saja diprivatisasi di Iraq. Pemerintah mengontrak perusahaan Amerika, Blackwater Worldwide – yang sebelumnya sudah terancam bangkrut – untuk proyek jasa pengamanan para kontraktor minyak dan proyek bisnis lainnya. Termasuk untuk mengamankan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan personalnya di kawasan zona hijau (Green-zone), Baghdad. Sekitar 30.000 pasukan Blackwater betul-betul mirip tentara dengan persenjataan lengkap berkeliaran di Baghdad dan sekitarnya.

Pasukan bayaran itu berhak menembak dan membunuh orang tanpa bisa diadili. Dia tak tunduk pada hukum Iraq, tidak pula pada hukum Amerika Serikat. Oktober lalu, DPR Amerika membuat undang-undang, bahwa kontraktor yang bekerja pada Pemerintah Amerika di daerah konflik di luar negeri, bertanggung-jawab pada hukum Amerika. Tapi Gedung Putih menolaknya, dan sampai kini undang-undang itu terkatung-katung di Senat.

Padahal September lalu, sejumlah pasukan Blackwater, pengawal konvoi pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang berkunjung ke Baghdad, entah mengapa tiba-tiba menembaki kendaaran yang ada di jalan umum sekitarnya. Akibatnya, 17 orang meninggal, sejumlah lainnya luka-luka. Para pelaku penembakan sampai sekarang bebas tanpa diadili, dengan dalih belum ada undang-undangnya.

Serangan dahsyat tsunami akhir 2004 di Sri Langka, tak luput dari inceran kaum kapitalis. Penanam modal asing bekerjasama dengan bank internasional memanfaatkan situasi panik akibat bencana, untuk menguasai garis-garis pantai yang indah. Di sepanjang pantai dengan cepat berdiri resor wisata yang megah, hotel, villa, motel, dan sebagainya, menyebabkan ratusan ribu nelayan yang semula mendiami kawasan itu, kini tergusur.

Jelaslah sekarang bagaimana sistem kapitalisme global bekerja untuk mencapai tujuan: memanfaatkan momentum trauma kolektif dari suatu krisis, musibah atau bencana, untuk melaksanakan rekayasa sosial dan ekonomi di berbagai belahan bumi. [berlanjut…/www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies.

Wednesday, May 21, 2008

BBM Naik Lagi

BBM bakal naik lagi tanggal 26 Mei 2008 nanti. Masyarakat sangat mencemaskan kenaikan BBM ini karena tentunya akan menambah pengeluaran sehari-hari. Belum juga BBM naik, harga-harga barang premier, sekunder dan tertier sudah merambat naik. Kenaikan harga ini ditakutkan tidak hanya berhenti ketika harga BBM naik, tetapi akan terus naik setelah kenaikan BBM.

Kenaikan ini juga di khawatirkan akan membuat angka kemiskinan dan angka pengangguran meningkat. Angka kemiskinan akan meningkat, karena tentunya garis kemiskinan juga tentunya akan naik dan orang-orang yang berada di garis kemiskinan, tentunya saat ini berada di bawah garis kemiskinan. Perusahaan-perusahaan juga sudah tidak sanggup menganggung beban biaya dari karyawan-karyawannya, sehingga akhrinya terjadi PHK dimana-mana.

Kita sudah banyak membaca di berbagai surat kabar, TV, radio maupun internet bagaimana kenaikan harga BBM ini akan berdampak pada kehidupan masyarakat kecil khususnya. Bagaimana teori-teori yang dikatakan pemerintah bahwa kenaikan harga BBM akan mensejahterakan rakyat tampaknya hanya retorika belaka. Demo digelar di mana-mana, dari ibukota Jakarta hingga kota-kota lain di Indonesia menentang rencana kenaikan BBM ini.

Beberapa ORMAS dan LSM juga mempertanyakan pernyataan pemerintah yang menyatakan bahwa menaikkan harga BBM adalah langkah terakhri, sedangkan masyarakat tidak pernah tahu langkah-langkah apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Banyak juga usulan solusi untuk mengatasi masalah ini, tetapi sepertinya pemerintah tidak menanggapi sama sekali aspirasi dari rakyatnya.

Apa sebenarnya pokok permasalahannya sehingga pemerintahpun tampaknya begitu 'kekeuh' untuk menaikkan harga minyak.

Liberalisasi MIGAS

Semua berawal dari sekitar awal tahun 2003 yang lalu dimana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendeklarasikan liberalisasi industri hilir migas dengan melantik Badan Pengatur (Batur) sektor hilir minyak dan gas pada hari selasa 13 Mei 2003. Liberalisasi MIGAS ini juga ternyata sudah di perkuat oleh Undang-Undang Minyak dan Gas Nomor 22 Tahun 2001.

Liberalisasi migas ini bermaksud membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas. Artinya, kedepannya, penjual bensin eceran di Indonesia tidak hanya Pertamina, tetapi juga ada pemain asing seperti British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika).

Dampak dari liberalisasi ini adalah harga minyak dalam negeri, atau yang dijual oleh Pertamina harus sama dengan harga minyak yang berlaku di dunia International, agar pemain asing dapat bermain dengan bebas. Dengan ditetapkannya liberalisasi MIGAS ini juga mengakhiri monopoli Pertamina di Indonesia.

Selanjutnya, untuk mendongkrak harga minyak dalam negeri, pemerintah mulai menghapuskan subsidi BBM secara bertahap yang kalau sesuai rencana seharusnya berakhir tahun 2004 lalu.

Investasi

Dikatakan bahwa kenaikan BBM akan meningkatkan iklim investasi dan kompetisi di Indonesia. Tahun 2004 saja, mengutip pernyataan Dirjen Migas Dept. ESDM, Iin Arifin Takhyan, di Trust, edisi 11/2004, terdapat 105 perusahaan yang sudah mendapat izin untuk bermain di sektor hilir migas, termasuk membuka stasiun pengisian BBM untuk umum (SPBU).

Investasi adalah masuknya perusahaan-perusahaan asing ke Indonesia untuk mengembangkan usaha disini. Di lihat dari penggunaan bahasanya memang bagus, tetapi apa kita lupa bahwa yang namanya usaha adalah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya?

Bayangkan jika banyak perusahaan asing berinvestasi di Indonesia, mereka mencari untung di negara kita, lalu, keuntungan itu mereka bawa kemana? Jelas ke negara asal, yang artinya kita akan kehilangan devisa yang sangat besar. Jadi negara kaya akan semakin kaya dan negara miskin akan semakin miskin.

Bayangkan ketika para TKI kita bekerja mati-matian sehingga bisa dibilang sebagai pahlawan devisa, di sisi lain kita membuang-buang devisa kita dalam jumlah yang sangat tidak sebanding. Ini berbeda dengan hutang, karena hutang (plus bunganya) akan selesai ketika lunas dibayar. Sedangkan investasi yang akan terus berlarut-larut.

Inilah investasi yang sangat ditakut-takuti pemerintah, dimana sebetulnya pemerintah bisa membatalkan UU liberalisasi MIGAS, tetapi karena ketakutan pada pihak asing yang menakut-nakuti kita bahwa investor tidak akan percaya pada pasar Indonesia, makanya pemerintah lebih memilih 'membunuh' rakyatnya ketimbang mengambil resiko kehilangan investor.

Yah, sebagai orang bodoh, saya lebih setuju dengan investor dalam negeri ketimbang investor dari luar negeri.

Solusi

Saya tidak punya solusi, hanya saja saya ingin kutip solusi dari hasil diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38, bertema BBM Naik, SBY-JK Turun?, di Jakarta, Senin (19/5). (http://www.hizbut-tahrir.or.id)

1. Pemotongan bunga rekap di APBN sebesar 40-60 triliun.
2. Pemotongan bunga utang 95 triliun
3. Winfall profit dari hasil minyak bumi tidak perlu dibagi ke daerah, tetapi digunakan untuk menutupi subsidi BBM
4. Membatalkan kontrak/nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak asing.
5. Mengubah sistem pengelolaan BBM, gas, batu bara dan energi lainnya dari swasta ke pengelolaan negara.

Nomor 5 ini artinya nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang saat ini pemerintah malah melakukan privatisasi aset-aset negara. Kenapa sangat sulit nasionalisasi? padahal banyak orang-orang pintar dari Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan asing? Bukannya tinggal bikin perusahaan baru kemudian membajak orang-orang terpintar Indonesia dengan gaji dan fasilitas yang sekelas perusahaan asing?

Terakhir

Kalau kita cermati, hal ini tidak hanya terjadi di sektor MIGAS saja, tetapi hampir di setiap sektor ekonomi kita seperti perbankan, telekomunikasi, jalan TOL, air!, dan lainnya, karena sebetulnya bukan liberalisasi MIGAS, tetapi liberalisasi ekonomi (coba cari di google).

Jadi sebenarnya negara kita ini sebetulnya sudah terjebak skenario negara-negara maju yang ingin menjajah perekonomian Indonesia.

Khusus MIGAS, bukankah kita memiliki UUD 45 yang jelas-jelas menyatakan pada bab XIV Kesejahteraan Sosial pasal 33.
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.



Sumber:
1. Mail Archieve
2. Kompas Cetak (Edisi Web Yang Lama)
3. www.hizbut-tahrir.or.id
4. www.korantempo.com
5. www.antara.co.id
6. www.suarapembaruan.com



Thursday, May 15, 2008

Kartu Hutang

Beberapa minggu lalu, ketika saya sedang berbelanja di Giant Cimanggis, saya melihat ada sebuah stand kecil dengan tulisan Kartu Hutang di bagian atasnya. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan, tetapi ketika mengantri di kasir (Ampun deh, zaman sekarang mau ngasih duit aja musti antri), tidak sengaja saya membaca tulisan tersebut, lalu terjadilah percakapan dengan yayang :

(q = quallesqy; y = yayang)
q: Eh, eh, eh, tuh ada kartu hutang
y: Kartu Hutang?
q: Iya, kalo pake kartu itu kita bisa ngutang
y: Masa sih?
q: Lha piye iki, namanya juga kartu hutang, ya fungsinya buat ngutang toh
y: Wah enak banget, terus pinjemnya berapa?
q: Tau, berapa aja kali, enak kali ya, bisa ngutang dulu kalo bokek, gak musti pinjem ama orang, gak musti kena omel dulu, gak perlu gak enak sama orang.
y: Iya ya, terus nanti bayarnya gimana?
q: Ya bayar aja kalo kita punya duit, kalo nggak ya nunggak lagi, bisa kredit lagi
y: Itu bukannya sama aja sama kartu kredit?
q: Bukan, kartu hutang
y: Bedanya sama kartu kredit apa?
q: Pokoknya beda, Kartu Hutang ya Kartu buat ngutang, Kartu Kredit ya Kartu Kredit. Pokoknya beda!
y: (bingung) Bukannya sama aja ya sama credit card?
q: Beda!
...
...

Yah, akhirnya kita bertengkar, tapi saya juga cuman pura-pura bego jadi orang kampung. Akhirnya kita ambil kesimpulan, yang emang harusnya sudah jelas dari awal kalau Kartu Hutang itu ya Kartu Kredit alias Credit Card, apalagi nama perusahaannya adalah nama perusahaan salah satu perusahaan perbankan yang cukup terkemuka di dunia.

10-15 tahun yang lalu, kartu kredit masih merupakan barang mewah yang hanya di miliki individu tertentu, tapi sekarang sudah bisa dimiliki oleh hampir semua kalangan masyarakat. Tentu saja keberhasilan seperti itu adalah hasil kerja keras marketingnya dalam mempromosikan produknya. Salah satu usahanya adalah dengan merubah paradigma negatif yang sudah hadir di masyarakat.

Ketika kartu kredit mulai mewabah, paradigma yang diubah adalah bahwa kartu kredit bukan lagi merupakan barang mewah, tidak harus jadi jutawan untuk menikmati segala fasilitas kartu kredit tersebut. Cukup dengan gaji 2.5 juta rupiah saja kita sudah bisa memiliki satu kartu.

Seiring waktu, semakin banyak orang yang terjebak riba dari kartu kredit tersebut. Banyak orang yang mulai bergantung dengannya dan terbelit hutang yang tidak kecil jumlahnya. Bagi mereka yang sanggup bayar mungkin tidak masalah, tetapi bagi mereka yang pendapatannya pas-pasan ya akhirnya gali lubang tutup lubang.

Pihak perusahaan juga tidak tinggal diam kalau kita tidak melakukan pembayaran pada waktunya, mereka mulai melakukan teror, dari telpon ke HP, rumah, kantor, teman, atau bahkan sampai datang menemui kita dari yang awalnya bersikap ramah hingga yang berani kurang ajar.

Saya yakin kebanyakan dari kita pernah mengalaminya, setidaknya di telpon sama CS nya.

Seiring dengan keuntungan yang diperoleh dari ribanya, Image kartu kredit pun semakin terpuruk. Banyak orang mulai menghindarinya. Tidak kehilangan akal, pihak perusahaan pun bekerja sama dengan banyak pusat perbelanjaan agar memudahkan kita berhutang.

Dirasa masih kurang menguntungkan, berbagai permainan kata pun mulai di gunakan. Ada yang menyebut stand dan marketernya dengan sebutan Shopping Advisor. Lalu ada yang bilang Kartu Hutang, ada juga Kartu Cicilan, ada Kartu Belanja, pokoknya banyak lagi deh.

Kenapa sampai segitunya? Karena kesuksesan bagi mereka adalah sebanyak mungkin orang berhutang ke mereka.

Divisi Marketing juga punya seribu satu cara untuk menjaring pelanggan, dari yang baik-baik sampe yang paling extrim sekalipun. Sudah bukan rahasia umum bahwa perusahaan-perusahaan kartu kredit bekerja seperti mafia. Bagi anda yang punya satu kartu kredit atau yang pernah apply, pasti pernah tiba-tiba mendapat telpon dari CS yang menanyakan kesediaan kita untuk pembuatan kartu kredit tersebut. Ini sering, setidaknya satu bulan sekali.

Ada juga yang pernah dihubungi CS dan dikatakan bahwa Kartu Kredit kita sudah di approve padahal kita tidak pernah Apply Kartu Kredit dari perusahaan tersebut. Seperti 2 hari yang lalu, saya dihubungi oleh salah seorang CS Bank BII dan dia bilang saya sudah di approve untuk Kartu Kredit Gold, tapi saya tidak pernah merasa apply Kartu tersebut. Selama ini, saya hanya apply untuk Dirham Card - Danamon Syariah (Yang notabene gak diapprove-approve). Kontan saya marah dan agak membentak ketika saya bilang saya tidak mau, CS bilang kalau mereka sudah coba telp ke Ibu saya untuk konfirmasi tetapi tidak bisa, bahkan beliau tahu nama lengkap ibu saya!

Saya sering juga dapat penawaran dari Bank Mandiri. Saya tidak pernah apply ke dua Bank ini, yang ada juga saya apply untuk lowongan kerja di sana. Jadi kemungkinannya ada 2 entah dari CV yang saya kirim ataupun dari CS dari bank lain yang memberikan data ke bank yang bersangkutan.

Entahlah, yang manapun juga kita hanya jadi korban dari sistem. Kita marah-marah ke CS atau sales nya juga tidak membantu, karena mereka hanya pekerja kontrak, mungkin juga outsourcing yang diberi target yang harus mereka penuhi, sehingga jika mereka ingin mempertahankan pekerjaannya, mereka sipaksa menghalalkan segala cara. Jangan heran kalau di satu tempat ada 2 stand Kartu Kredit, dan kita mendekat ke salah satunya, maka sales dari stand yang lain akan memaksa kita (saya pernah sampe ditarik-tarik) untuk ke stand mereka.

Berhati-hatilah, bahasa sangat mempengaruhi penilaian kita tentang sesuatu, cermati dahulu sebelum kita mengambil keputusan.


Friday, May 09, 2008

Teman yang baik adalah . . .

PT:”Assalamu’alaykum wr wb, pak Jawab”
PJ:”Wa’alaykumsalam wr wb, pak Tanya…ada yang bisa saya bantu?”

PT:”Begini pak Jawab…saya ingin curhat.”
PJ:”Tumben ingin curhat, apa yg menjadi keluhan anda? Setahu saya anda tidak punya banyak keluhan..”

PT:”Wah, jangan begitu toh pak, saya juga manusia biasa, pasti ada keluhan..”
PJ:”Hmmm..oke…oke..maaf..Lalu, apa yg menjadi keluhan anda?”

PT:”Begini…saya ingin tahu apa yang dimaksud dengan teman yang baik..”
PJ:”Memangnya, anda ada masalah dg teman?”

PT:”Tentu saja, makanya saya bertanya demikian. Begini, saya mengalami masalah dengan teman2 saya.”
PJ:”Ada apa dengan teman anda?”

PT:”Sebelumnya, tolong jawab dulu, apa yang dimaksud dengan teman yg baik?”
PJ:”Oya, maaf…saya lupa. Teman yg baik, menurut Islam, adalah teman yg selalu mengajak kepada kebaikan, senantiasa menghindarkan kita dari perbuatan yg keji dan mungkar. Termasuk perbuatan yang sia-sia.”

PT:”Oooo…begitu ya pak?”
PJ:”Betul. Bahkan dalam salah satu pengajian yg pernah saya ikuti, sang ustad berkata,”Jika berteman dengan tukang pandai besi, kita akan terpercik bara api. Sementara jika kita berteman dengan tukang minyak wangi, maka sedikit banyak bau wangi akan tercium dari tubuh kita.” Karenanya kita mesti memperhatikan siapa teman2 kita.”

PT: *mengangguk-angguk*
PJ:”Lantas, apa masalah anda, pak Tanya?”

PT:”Oh ya…hampir lupa. Begini, saya merasa teman saya kok rasanya tidak sesuai dengan kriteria pak Jawab. Tiap saya bertemu atau beraktivitas dengan mereka, kok saya tidak merasakan adanya kebaikan…err..maksud saya, kebaikan mungkin ada, tapi persentasinya kuecil sekali.”
PJ:”Maksud anda?”

PT:”Wah, saya sulit menjelaskannya. Mudahnya begini…belakangan ini ucapan dan sikap mereka cenderung meresahkan hati saya. Kok yaaa…keterlaluan begitu, ngomong kok yaaa dikontrol sedikit. Lha ini kok malah seenaknya?”
PJ:”Yaa…jika anda merasa resah, tidak ada salahnya anda tinggalkan mereka.”

PT:”Memang, saya sudah lakukan itu. Saya sudah jarang mengunjungi teman2 saya itu. Lha wong tiap kali bertemu dengan mereka, tujuannya seringkali tidak jelas. Nongkrong2 di satu tempat hingga pagi malah…walhasil saya sering terlambat bekerja.”
PJ:”Lah…lah…lah…kok ya bisa nongkrong hingga pagi seperti itu? Lebih baik kan waktunya digunakan untuk sholat malam atau sejenisnya. Memangnya teman2 anda tidak bekerja?”

PT:”Tentu saja bekerja…tapi entahlah, saya sendiri juga tidak mengerti. Bahkan saya bingung, apakah kantor mereka tidak menegur mereka?”
PJ:”Hmmm…”

PT:”Jadi, pak Tanya…apa yg mesti saya lakukan?”
PJ:”Usaha dan tindakan pak Tanya sudah benar. JAUHI MEREKA. Seperti yg saya utarakan tadi di atas, jika TEMAN ANDA malah membawa KEBURUKAN/KEMUDHARATAN, lebih baik ANDA TINGGALKAN.”

PT: *mengangguk-angguk*
PJ:”Terlebih lagi, sedikit banyak teman bergaul anda bisa mempengaruhi cara pikir anda. Jika anda selalu berteman dengan tukang sampah, maka anda akan menganggap hal-hal yg kotor sebagai sesuatu yg biasa. Padahal, bagi orang lain, yg normal maksudnya, hal tersebut menjijikkan.”

PT:”Lho, pak Jawab…memangnya salah jika berteman dengan tukang sampah?”
PJ:”Tidak…tidak ada salahnya. Tapi saya lihat anda sebenarnya memiliki potensi yg baik, dan berasal dari keluarga baik-baik. Mengapa anda harus memaksakan diri berteman dg tukang sampah? Jika anda berteman dg PENGELOLA SAMPAH, itu baik, karena dia pasti berpikir bagaimana mengolah sampah. Dan saya yakin, dia tidak lantas mesti bercampur langsung dengan sampah.”

PT: *mengangguk-angguk*
PJ:”Jika anda ingin sukses, anda justru mesti banyak bergaul dengan orang2 sukses. Saya lihat banyak teman anda yg cukup sukses, serta punya kepribadian yg baik. Banyak2 bergaul dengan mereka. Pola pikir mereka, saya yakin, akan banyak bermanfaat bagi usaha mencapai sukses seperti yg anda harapkan.”

PT:”Ok, pak Jawab…terima kasih atas pencerahannya.”
PJ:”Sama-sama…”

PT:”Saya pamit dulu. Assalamu’alaykum wr wb.”
PJ:”Wa’alaykumsalam wr wb.”

Wednesday, May 07, 2008

Outsourcing - Alih Daya

Hari ini saya dapat e-mail dari salah seorang teman kantor saya yang ternyata merupakan e-mail kaleng yang menggunakan nama beliau. Isinya menjelaskan bagaimana proses outsourcing di kantor kami tidak berjalan sesuai dengan baik.

Outsourcing atau dalam bahasa Indonesianya adalah Alih Daya adalah proses subcontract atau pendelegasian proses-proses tertentu dalam perusahaan kepada perusahaan lain yang diakibatkan oleh beberapa hal diantaranya perusahaan tidak memiliki sumber daya untuk melakukan proses-proses tersebut, ada proses-proses lain yang memerlukan fokus lebih, ingin lebih mengefisiensikan tenaga kerja, modal, teknologi dan sumber daya lainnya kepada perusahaan lain yang memiliki kemampuan di bidang-bidang tersebut. Outsourcing sendiri mulai dikenalkan pada 1980-an dan sudah menjadi trend di banyak perusahaan, terutama banyak menjamur di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Keuntungan outsource adalah perusahaan tidak perlu memikirkan banyak hal seperti kesejahteraan karyawan, jenjang karir, kenaikan gaji dan lainnya. Perusahaan hanya cukup membayar kepada pihak ketiga sejumlah kesepakatan untuk memperoleh kualitas kerja yang memuaskan.

Kalau kita lihat dari pengertiannya artinya adalah bahwa perusahaan menginginkan hasil yang optimal dengan modal yang sama dengan modal yang dia keluarkan ketika dia tidak outsource. Inilah yang kemudian menjadi masalah dan disalah artikan oleh banyak pihak dengan memperkecil modal untuk mendapatkan hasil yang luar biasa.

Perusahaan outsource juga biasanya bukan perusahaan yang mengkhususkan diri sebagai perusahaan yang profesional di bidangnya, kebanyakan dari mereka adalah perusahaan baru yang masih memiliki hubungan dengan pejabat di first party. Celakanya, banyak perusahaan yang sama sekali tidak kompeten di bidang tersebut, kemudian meng sub-contract kembali perusahaan yang lain, akibatnya bisa ditebak nilai kontrak dengan fouth-party jauh dari yang diterima third-party.

Karena orang-orang yang bekerja di third-party bukanlah orang-orang professional, malah kebanyakan dari mereka baru bergabung ketika ada projek, maka dapat dipastikan kualitas pekerjaannya bisa menurun drastis. Untuk mencegah itu semua, maka perusahaan outsourcing tidak mencari pegawai tetap, tetapi mencari tenaga kontrak/honorer agar ketika ada masalah, orang tersebut dapat diberhentikan/diputus kontraknya tanpa harus membayar pesangon atau yang lainnya.

Third-party juga biasanya menginginkan keuntungan sebanyak-banyaknya, maka mereka membayar pegawai kontrak mereka dengan sangat rendah, banyak malah yang lebih rendah dari Upah Minimum Regional yang ditetapkan pemerintah.

Satu aturan main tidak tertulis adalah jika user complain, maka si pegawai bisa langsung dipecat/diputus kontrak, oleh karenanya, pegawai outsourcing sangat hormat terhadap user, mereka bahkan rela melakukan pekerjaan yang diluar kesepakatan kerja atau bahkan di luar kemampuan manusia. Banyak dari mereka yang bekerja melewati jam kerja yang sudah disepakati karena mereka harus kejar target. Untuk yang sales, biasanya mereka diberi target penjualan yang mustahil.

Pernah ada cerita, seorang sales bank harus menghubungi 12 orang client (on site / tatap muka) dalam satu hari, padahal jam kerja dia hanya 8 jam dan dia harus report ke kantor jam 7 pagi, padahal jam kerja dia jam 8 - 5, jam 12 siang dan membuat log jam 5 sore. Bagaimana bisa, sedangkan kondisi jalanan Jakarta macet dan sangat unpredictable. Sungguh tidak masuk akal.

Tidak heran kerja outsourcing lebih mirip kerja rodi, gaji kecil, kerja keras, mending jadi polisi kali ya?

Saya sendiri adalah produk outsourcing, dan saya sudah pernah mengalami itu semua. Karenanya, mungkin saya adalah orang pertama yang akan berkata TIDAK! kepada outsourcing.

Jujur, memang tidak semua outsourcing sekejam itu, ada juga yang memang profesional, memiliki sumber daya manusia yang memang berpengalaman di bidangnya. Yang begini pasti kontrak kerjanya mahal dan tidak banyak dilirik perusahaan kecuali perusahaan yang menginginkan prefeksionitas.

Tuesday, May 06, 2008

Gusti Allah Tidak Sedang Bermain Dadu

Dapet artikel bagus dari sini.

Selengkapnya :


Negara Alfabet

Kalau ini adalah negara Alfabet, maka mari kita sebut tokoh bernama A. Yang serba baik, pinter, alim, mampu menciptakan keluarga yang sakinah dengan 7 orang anak, menginspirasi semua orang untuk menjadi lebih baik, pengusaha sukses pula. Pokoknya nilainya serba A. Makanya dia disebut AA.

Di ujung negara yang lain, tentu saja namanya Z, ada orang yang juga pinter, baik hati, aktif di kegiatan kemahasiswaan hingga jadi ketua Umum organisasi mahasiswa islam. Sampai akhirnya beliau bisa memanjat pohon beringin yang mendudukkannya di kursi Senayan, naik motor 20 menit dari kontrakanku. Jadi posisiku dan dia bedanya nggak jauh-jauh amat sih. Pak Z ini sangat Yahud, maka diberi julukan YZ. *halah maksa*

AA ke YZ

Dunia tiba-tiba gempar. Mas AA menikah lagi, secara resmi di depan saksi. Istrinya yang baik, ramah, subur (lha anaknya 7 je), merelakan suaminya menikah lagi dengan seorang mantan model, cantik tinggi semampai.

Kemudian, Ibu-ibu demo, menteri ikut bikin pres rilis, pejabat lain mengajukan amandemen pengubahan undang-undang, presiden angkat bicara, infotainment dapat topik bahasan, tabloid-tabloid dapet berita.

Mas AA kembali menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Di ujung dunia lain, video klip amatir mas YZ beredar cepat dari HP ke HP, lewat mahasiswa, karyawan kantor, tukang ojek, anak SMA, lewat milis-milis, sampai akhirnya masuk ke media massa.

Penasaran juga, memang sutradaranya siapa sih kok peredaran filmnya ngalahin gegap gempitanya Jiffest? Owalah, ternyata adegan mas YZ sedang ‘ihik-ihik’ dengan mbak ME, seorang penyanyi dangdut yang memang sudah malang melintang di pentas panggung politik -dalam arti harfiah-. (Eh, tapi walau sudah nikah,nonton begituan tetep dosa ya?)

Kemudian, gedung Senayan geger lagi. Om Permadi malah bilang “ah, lagi sial aja itu si YZ, sudah biasa di sini”. Hwarakadah, ini lagi ngomongin dewan yang terhormat lho, bukan ngomongin komplek prostitusi. Waktu bergerak cepat, lalu mbak ME masuk TV, infotainment dapat topik bahasan, tabloid-tabloid dapat berita.

Tapi untuk kasus ini, mas YZ tidak menginspirasi banyak orang. Lagipula, waktu itu beliau sedang ke luar negeri.

Poligami dan Selingkuh

Jadi begitulah, di satu sisi dunia ada manusia yang menyalurkan sifat manusianya dengan cara yang berbeda. Satu dengan jalan yang memang diajarkan dalam agama -yang entah kondisinya sesuai atau tidak di jaman sekarang-. Satunya lagi dengan jalan yang selalu hina di jaman dan kebudayaan manapun.

Anak SD: “Kenapa acara Smack Down nggak ada lagi di TV ?”
Bapak : “Karena anak-anak suka meniru gerakannya, jadi berbahaya”
Anak SD: “Lho, kalau James Bond yang suka berzina itu kenapa tetap diputer di TV dan Bioskop? Bukannya Bapak-bapak juga suka meniru? Wakil rakyat saja sampai ikut meniru”
Bapak : “Oh kalau itu tidak bisa dihapus, karena nanti ramai orang demo lagi di bunderan HI, kan mengganggu anak-anak yang mau sekolah”

***

Sementara itu, di sebuah blok di Rumah Susun Tanah Abang, sepasang suami istri yang baru sebulan menikah ngobrol santai sambil nonton TV.

Istri Menyun: “Wah, AA Gym kawin kok negara sampai mau mengubah undang-undang sih? Reaktif, kaya infotainment saja”
Suami Geblek: “Ya begitulah. Eh, kalo aku kawin lagi gimana ya?”
Istri Menyun: “Emang mau punya istri berapa?”
Suami Geblek: “Delapan belas?”
Istri Menyun: “Lah, istri satu saja njemput di kantor terlambat terus kok. Kalau istrimu 18 nanti apa nggak susah antar jemputnya?”

Lalu aku bersyukur punya istri yang bisa mengingatkan keterbatasan kemampuanku.

--

Dan karena Einstein saja bilang kalau “God doesn’t play dice”, “Gusti Allah mboten dolanan dadu”, aku yakin dua kejadian yang terjadi bersamaan ini tidak terjadi tanpa hikmah buat umat manusia. Paling tidak untuk manusia yang masih sempat lihat infotainment dan baca tabloid gosip.


Ket: Penggunaan Mas AA adalah redundan.

Wednesday, October 03, 2007

Beauty of Math

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilliant, isn't it?

And look at this symmetry:

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111=123456789 87654321

Wednesday, September 19, 2007

Ketahuilah OlehMU

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia..
Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Allah SWT sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja...
Allah SWT sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon...
Allah SWT selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...
Allah SWT punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Allah SWT dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Allah SWT sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur...
Allah SWT telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Allah SWT telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
Allah SWT TAHU .......

Tuesday, September 04, 2007

The High Cost of Being a Workaholic

In a nation of overachievers, hard work is a virtue. If you work hard, you'll achieve your goals. If you work even harder, you'll achieve even more. Right?

Perhaps not. There are, in fact, several downsides to working too hard. Being the office workaholic can cost you coveted promotions, hurt your home life, and even turn friends into enemies. Evaluate yourself with the following five questions.

1. Are you busy ... or disorganized?

Are you constantly staying late and coming in early yet producing the same output as others? If so, your boss may come to view you as inefficient and possibly disorganized. Dave Cheng, an executive coach with Athena Coaching, says, "There are some people, type A's, who get a lot of satisfaction from doing lots of work, but the quality isn't necessarily superior."

Focus on getting your work done in a reasonable time frame. If you have perfectionism or time-management issues, ask your supervisor to help you prioritize things and learn when to let go of a task. Cheng says, "Just because you're working longer doesn't mean you're working better."

2. Are you delegating ... or hoarding?

If you have any aspirations at all to move into management, you must learn to delegate work. Again, tasks need to be completed in a timely fashion; if you're having trouble finishing a project, you must delegate to other team members, even if you happen to relish the task you're giving away.

Cheng, who has more than 12 years of experience in corporate human resources, reveals, "Some workers feel like if they do everything and they're the only one who knows how to do it, they're making themselves irreplaceable. However, sharing information and teaching others around you is a valued skill as far as management is concerned."

Focus on completion and quality and be generous enough to let a colleague learn and shine. If you lack sufficient support, ask your boss about expanding your group.

3. Are you hungry ... or is your plate full?

Once you've solidified your reputation as the office workaholic, you may find that when your dream project comes through the door, you aren't asked to work on it. Why? Your boss probably thinks you don't have the bandwidth to take on anything else. Always keep a bit of room in your schedule to sink your teeth into new challenges and opportunities.

Cheng reminds professionals, "Your ability to say no to certain things gives you the freedom to say yes to others."

4. Do you have friends ... or 'frenemies'?

Your workaholic ways are likely alienating once-valued associates. Above and beyond the obvious grumblings of, "You're making the rest of us look bad," your colleagues may dread collaborating on a project with you.

Lose the overly methodical approach, don't expect folks to come in early or stay late for meetings, and focus on process and outcome.

5. Do you work to live ... or live to work?

The best workers are well-rounded professionals with full lives, in and out of the office. Each year, new studies abound about the importance of vacations, hobbies, and enjoying your leisure time. But are you listening?

Your friends and family will be in your life a lot longer than you'll hold most jobs. Also, pursuing leisure activities you're passionate about can lead to a second career.

Cheng concludes, "Work-life balance is a choice. If you reflexively say yes to taking on extra work, you may live to regret it."