Showing posts with label Black Listed. Show all posts
Showing posts with label Black Listed. Show all posts

Monday, April 11, 2011

Polisi Suka `Menjebak` Pengendara

Metrotvnews.com, Jakarta: Kapolri Jenderal Timur Pradopo diharapkan segera mengambil tindakan tegas atas maraknya aksi "penjebakan" oleh polisi di jalanan Ibu Kota Jakarta.

Pasalnya, aksi meresahkan ini bukan hanya tidak mendidik, namun juga justru menambah kemacetan baru alih-alih menertibkan kemacetan itu sendiri.

"Kapolri harus segera menertibkan aksi polisi yang suka "menjebak" masyarakat di Jakarta. Seharusnya polisi-polisi itu tidak menjebak, tapi bertugas menertibkan pengendara di simpul-simpul kemacetan dan mengurai kemacetan," kata Ketua Indonesia Police Watch, Neta S Pane, dalam siaran persnya, Ahad (10/4).

Aksi polisi, imbuh Neta, akhir-akhir ini kian ganas di berbagai jalanan Jakarta. Polisi biasanya beroperasi di tikungan, pertigaan, lampu merah, di atas flyover, di tengah underpass, dan di pojok-pojok jalur busway.

Neta menambahkan sedikitnya terdapat 25 titik jebakan yang sangat rawan pungli. Berdasarkan pantauan Media Indonesia, titik-titik itu antara lain flyover Galur (Jakarta Pusat), pertigaan Apartemen Palazzo dekat Polsek Kemayoran Jakarta Pusat, Jalan Jenderal Gatot Soebroto Jakarta Selatan, dan jalur busway depan Universitas Trisakti Grogol Jakarta Barat.

Target operasi yang paling banyak ialah pengendara motor. Mereka ada yang 'iseng' memberhentikan pengendara untuk bertanya kelengkapan, namun ada pula, seperti yang diungkap Neta, sengaja 'menunggu' para pengendara yang bandel. Padahal mereka seharusnya mengarahkan para pengendara tersebut sebelum masuk jalur busway atau flyover itu sendiri.

Ironisnya, aksi ini makin marak terjadi di tengah-tengah upaya Polda Metro Jaya melakukan Operasi Simpati.

Neta pun menyayangkan upaya Polri yang terkesan 'kejar setoran' ini karena Polri baru saja ditetapkan mendapat dana renumerasi. "Untuk itu IPW mendesak Kapolri menurunkan tim khusus untuk menertibkan aksi tersebut," pungkas Neta.(MI/ICH)

Saturday, June 06, 2009

Puisi yang aneh . . .


Harian Kompas,Rabu 20 Mei 2009

andai aku bukan seorang Indonesia

Maka tak usahlah aku peduli dengan apa yang terjadi di negeri ini, 101 tahun lalu, sekarang, atau bahkan seribu tahun lagi.

Andai aku bukan seorang Indonesia maka aku tak perlu peduli dengan semua yang kulihat di jantung negeri ini, di Grand Indonesia Shopping Town. Masa bodoh dengan semua barisan mahakarya yang berdiri di jalan M.H. Thamrin No. 1 itu.

Masa bodoh dengan menara BCA-nya yang menggapai mega-mega angkasa atau Grand Indonesia Shopping Mall yang menjanjikan seribu satu pengalaman baru atau Kempinski Private Residences yang menghembuskan pesona keindahan nan abadi.

Andai aku bukan seorang Indonesia, aku takkan ambil pusing dengan kebesaran Hotel Indonesia simbol kebanggaan sejarah yang dibangun dengan semangat kebangkitan negeri ini.

Tapi aku adalah seorang Indonesia yang pada hari ini bergetar hebat hatinya saat melihat kebanggaan kami, Hotel Indonesia Kempinski sebagai bagian dari Grand Indonesia Shopping Town, selesai di pugar dan dibuka kembali untuk mengumandangkan kejayaan Indonesia Raya.

Aku adalah seorang Indonesia yang bangga melihat negeriku tak pernah takluk oleh zaman. Dan aku percaya bahwa sekecil apapun yang aku lakukan pada negeriku, akan membuat bangsaku semakin besar.



Itulah yang terpampang satu halaman penuh di surat kabar Kompas Rabu, 20 Mei 2009.

Lalu anehnya ada di mana? Mari kita bahas satu per satu.

Maka tak usahlah aku peduli dengan apa yang terjadi di negeri ini, 101 tahun lalu, sekarang, atau bahkan seribu tahun lagi.

Aku perduli dengan Indonesia, oleh karenanya aku belajar mencintai produksi-produksi dalam negerinya sebagai kekayaan yang tak tergantikan. Aku perduli, dengan Indonesia saat ini dan seribu tahun lagi, oleh karenanya aku selalu membuka mata dan hati untuk mencari dimana sebetulnya kesalahan bangsa ini sehingga bangsa yang begitu kaya, sekarang malah terpuruk sedemikian dahsyatnya.

Andai aku bukan seorang Indonesia maka aku tak perlu peduli dengan semua yang kulihat di jantung negeri ini, di Grand Indonesia Shopping Town. Masa bodoh dengan semua barisan mahakarya yang berdiri di jalan M.H. Thamrin No. 1 itu.

Aku perduli dengan Indonesia, dan aku perduli dengan semua yang kulihat di Grand Indonesia, disana yang aku lihat hanya produk-produk dari luar negeri, dan hanya beberapa saja yang produk dalam negeri. Maha karya yang kulihat bukanlah tentang Indonesia, tetapi tentang New York, Texas, Broadway, yang sanggup membuat saya lupa dengan kekayaan negeri ini.

Masa bodoh dengan menara BCA-nya yang menggapai mega-mega angkasa atau Grand Indonesia Shopping Mall yang menjanjikan seribu satu pengalaman baru atau Kempinski Private Residences yang menghembuskan pesona keindahan nan abadi.

Saya orang Indonesia, dan saya tidak masa bodoh dengan menara BCA-nya, atau Grand Indonesia Shopping Mall ataupun Kempinski Private Recidences nya, dimana ketika saya mau ke menara BCA atau Grand Indonesia, saya harus meninggalkan sendal jepit kesayangan saya di rumah, mengganti kaos kesayangan saya yang sudah berumur 7 tahun dengan sebuah kemeja, dan menjadi seseorang yang bukan saya hanya untuk merasa pantas berada di sana. Saya sangat perduli dengan Kempinski Private Recidences nya yang saya tidak bisa menikmati secuil saja keindahan dan kemegahannya hanya karena saya tidak memiliki cukup uang untuk itu.

Andai aku bukan seorang Indonesia, aku takkan ambil pusing dengan kebesaran Hotel Indonesia simbol kebanggaan sejarah yang dibangun dengan semangat kebangkitan negeri ini.

Tapi aku adalah seorang Indonesia yang pada hari ini bergetar hebat hatinya saat melihat kebanggaan kami, Hotel Indonesia Kempinski sebagai bagian dari Grand Indonesia Shopping Town, selesai di pugar dan dibuka kembali untuk mengumandangkan kejayaan Indonesia Raya.

Hati ini bergetar sangat hebat ketika melihat kemegahannya, kemegahan yang dibangun dari uang rakyat, dari pajak yang dipungut dariku dan 200 juta lebih masyarakat Indonesia, bahkan harus dengan berhutang keluar negeri, tetapi tidak bisa dinikmati oleh setiap dari kita, hanya mereka yang kaya saja yang bisa menikmatinya, sementara kami?
Hati ini bergetar hebat melihat kemegahannya karena meskipun bernama Grand Indonesia, tetapi sudah bukan milik negara kita lagi. Sedih rasanya jika mengingat bahwa Grand Indonesia dibangun dari uang rakyat, tetapi kemudian dijual kepada swasta.
Hati ini bergetar hebat melihat bagaimana ratusan karyawan dipecat ketika mereka mempertahankan mati-matian Hotel Indonesia agar tetap menjadi milik bangsa.
http://www.detiknews.com/read/2009/05/18/114023/1133198/10/mantan-karyawan-demo-tolak-peresmian-hi

Aku adalah seorang Indonesia yang bangga melihat negeriku tak pernah takluk oleh zaman. Dan aku percaya bahwa sekecil apapun yang aku lakukan pada negeriku, akan membuat bangsaku semakin

Aku adalah orang Indonesia, aku bangga karenanya, tetapi hatiku telah hancur berkeping-keping melihat saudara-saudaraku di pinggiran Grand Indonesia berkubang dengan kemiskinan, sementara di depan mereka ada sebuah monumen konsumerisme dan liberalisme yang begitu megah berdiri yang dibangun dari setiap rupiah pajak yang mereka bayarkan.
Hatiku hancur berkeping-keping ketika melihat begitu banyak uang yang dihamburkan untuk membangun monumen konsumerisme dan liberalisme dari uang rakyat, tetapi diperuntukkan hanya untuk sebagian golongan saja.
Hati ini hancur ketika memikirkan bagaimana setiap rupiah yang diperoleh harus disetorkan kepada Kempinski Principal yang artinya devisa kita akan banyak menguap ke luar negeri dan akan mengakibatkan tambahan beban inflasi bagi rakyat.

AAAArgh, aku tak tahu lagi, aku orang Indonesia, tapi aku tidak bangga dengan segala yang ada pada Grand Indonesia!!!

Wednesday, May 07, 2008

Outsourcing - Alih Daya

Hari ini saya dapat e-mail dari salah seorang teman kantor saya yang ternyata merupakan e-mail kaleng yang menggunakan nama beliau. Isinya menjelaskan bagaimana proses outsourcing di kantor kami tidak berjalan sesuai dengan baik.

Outsourcing atau dalam bahasa Indonesianya adalah Alih Daya adalah proses subcontract atau pendelegasian proses-proses tertentu dalam perusahaan kepada perusahaan lain yang diakibatkan oleh beberapa hal diantaranya perusahaan tidak memiliki sumber daya untuk melakukan proses-proses tersebut, ada proses-proses lain yang memerlukan fokus lebih, ingin lebih mengefisiensikan tenaga kerja, modal, teknologi dan sumber daya lainnya kepada perusahaan lain yang memiliki kemampuan di bidang-bidang tersebut. Outsourcing sendiri mulai dikenalkan pada 1980-an dan sudah menjadi trend di banyak perusahaan, terutama banyak menjamur di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Keuntungan outsource adalah perusahaan tidak perlu memikirkan banyak hal seperti kesejahteraan karyawan, jenjang karir, kenaikan gaji dan lainnya. Perusahaan hanya cukup membayar kepada pihak ketiga sejumlah kesepakatan untuk memperoleh kualitas kerja yang memuaskan.

Kalau kita lihat dari pengertiannya artinya adalah bahwa perusahaan menginginkan hasil yang optimal dengan modal yang sama dengan modal yang dia keluarkan ketika dia tidak outsource. Inilah yang kemudian menjadi masalah dan disalah artikan oleh banyak pihak dengan memperkecil modal untuk mendapatkan hasil yang luar biasa.

Perusahaan outsource juga biasanya bukan perusahaan yang mengkhususkan diri sebagai perusahaan yang profesional di bidangnya, kebanyakan dari mereka adalah perusahaan baru yang masih memiliki hubungan dengan pejabat di first party. Celakanya, banyak perusahaan yang sama sekali tidak kompeten di bidang tersebut, kemudian meng sub-contract kembali perusahaan yang lain, akibatnya bisa ditebak nilai kontrak dengan fouth-party jauh dari yang diterima third-party.

Karena orang-orang yang bekerja di third-party bukanlah orang-orang professional, malah kebanyakan dari mereka baru bergabung ketika ada projek, maka dapat dipastikan kualitas pekerjaannya bisa menurun drastis. Untuk mencegah itu semua, maka perusahaan outsourcing tidak mencari pegawai tetap, tetapi mencari tenaga kontrak/honorer agar ketika ada masalah, orang tersebut dapat diberhentikan/diputus kontraknya tanpa harus membayar pesangon atau yang lainnya.

Third-party juga biasanya menginginkan keuntungan sebanyak-banyaknya, maka mereka membayar pegawai kontrak mereka dengan sangat rendah, banyak malah yang lebih rendah dari Upah Minimum Regional yang ditetapkan pemerintah.

Satu aturan main tidak tertulis adalah jika user complain, maka si pegawai bisa langsung dipecat/diputus kontrak, oleh karenanya, pegawai outsourcing sangat hormat terhadap user, mereka bahkan rela melakukan pekerjaan yang diluar kesepakatan kerja atau bahkan di luar kemampuan manusia. Banyak dari mereka yang bekerja melewati jam kerja yang sudah disepakati karena mereka harus kejar target. Untuk yang sales, biasanya mereka diberi target penjualan yang mustahil.

Pernah ada cerita, seorang sales bank harus menghubungi 12 orang client (on site / tatap muka) dalam satu hari, padahal jam kerja dia hanya 8 jam dan dia harus report ke kantor jam 7 pagi, padahal jam kerja dia jam 8 - 5, jam 12 siang dan membuat log jam 5 sore. Bagaimana bisa, sedangkan kondisi jalanan Jakarta macet dan sangat unpredictable. Sungguh tidak masuk akal.

Tidak heran kerja outsourcing lebih mirip kerja rodi, gaji kecil, kerja keras, mending jadi polisi kali ya?

Saya sendiri adalah produk outsourcing, dan saya sudah pernah mengalami itu semua. Karenanya, mungkin saya adalah orang pertama yang akan berkata TIDAK! kepada outsourcing.

Jujur, memang tidak semua outsourcing sekejam itu, ada juga yang memang profesional, memiliki sumber daya manusia yang memang berpengalaman di bidangnya. Yang begini pasti kontrak kerjanya mahal dan tidak banyak dilirik perusahaan kecuali perusahaan yang menginginkan prefeksionitas.

Monday, September 24, 2007

Nasi Bakar





Udah lama kita berdua pengen banget cobain kelapa bakar yang ulasannya pernah nongol di TV. Ada sih yang jual di pinggir jalan, sayang lokasinya kurang strategis, mereka jualan di sebelah lingkungan prostitusi, dan there is no way we're gonna come near any of that area!

Nah, bolak-balik di Margonda kayak setrikaan, ujung mata gw menangkap kata-kata kelapa bakar, langsung gw kasih tau yayang dan yayang pun membenarkan hal itu. So, setelah nongol di TV, kita bedua memutuskan nyicipin gimana rasanya kelapa bakar.

Hari itu kebetulan masih awal puasa dan rumah yayang juga sedang renovasi besar2an, jadi kita bedua ngungsi ngabuburit dari jam 12 siang! Jalan-jalan ke Taman Safari yang gak ada apa-apanya sampe sholat Dzuhur dan Ashar di masjid At-Tin.

Masjid At-Tin termasuk sangat besar dan megah dengan 2 fungsi, lantai pertama untuk ruang serba guna yang biasa dipakai untuk pesta pernikahan keluarga koruptor di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Suharto. Yang lantai atas digunakan sebagai masjid. Idenya sih emang brilian banget deh, jadi habis sholat bisa langsung pesta di lantai bawahnya, habis tutup-tutupan bisa langsung buka-bukaan deh.

Enough about all the sentiment crap, habis Ashar kita istirahat sebentar sekalian buang waktu biar pas sampe ke kelapa bakar nunggu buka puasanya gak kelamaan.

Resto nya sendiri gak terlalu mewah kok, hanya rumah biasa yang bagian garasinya di jadiin tempat usaha dengan tenda dan meja makan berada di atas trotoar. Pertama kita dateng, kita bedua bingung, soalnya dimana-mana jam segitu semua tempat penuh dengan orang yang ngabuburit, tapi di sini kok sunyi senyap ya, cuman rame karena suara Nasyid dari tape yang segede gambreng.

Yayang turun sementara gw nunggu di motor, soalnya kita bedua mau beli es pocong yang lokasinya lumayan jauh dari situ. Setelah yayang mesen sesuatu, kita on the go ke es pocong. Eh gileeeee, nama menunya serem banget bo, menu andalannya aja namanya es pocong, yang kebetulan kosong waktu itu, nah yang laennya kayak lagi gaul sama komunitas underground gitu deh.

Akhirnya kita beli minuman yang gak jelas namanya, trus balik lagi ke tempat Nasi bakar. Sampe sono kok tetep sepi ya? Gak ada satupun pengunjung, setelah liat menunya gw maklum, soalnya menu andalannya, Nasi Bakar, harganya mahal gila! 40 rebo cuman buat nasi bakar, ayam bakar, bebek bakar dan aqua! Oke, maybe masih ada menu lain, tapi yayang bilang menu lainnya cuman rujak bakar ama burger bakar, dan ternyata yayang lumayan pinter kalo berurusan sama dompet gw, dia pesen burger bakar 2 buat gw, dan guess what itu pun gak termasuk minum.

Selama kita menikmati burger bakar yang dalemnya ada sari kelapa dan dagingnya agak memuakkan, gw liat ada beberapa pasangan dan keluarga yang datang untuk makan dan langsung ngacir begitu liat harganya.

Wow man!, this is very disappointing, daging burgernya kualitas rendah, harganya mahal dan suara musiknya keterlaluan kerasnya, sampe-sampe kayak di tempat dugem yang pake lagu Nasyid.

Minuman yang kita beli juga ternyata tidak begitu enak, gw gak begitu suka mocca, dan gw dapet rasa mocca, pala gw langsung puyeeeeeeeeeng. Crap!

Aaaaarrrrrgh . . . !


Untuk mengobati kekecewaan hati yang begitu dalam, kita berdua balik lagi ke es pocong, berharap es posongnya udah ada. Ternyata udah ada, dan langsung kita borong dan kita nikmati bersama keluarga yayang di rumah.

Tuesday, July 10, 2007

Yopie Salon at Detos

Hampir sama seperti salon Cristopher, dengan warna dominan merah dan kerbersihan yang terlihat di jaga. Bedanya, sekilas pintas juga ketahuan kalau ini salon buat ABG, alias Anak Baru sok Gaul.

Kebetulan hari minggu kemaren gw lagi date di sekitar Depok dan kebetulan juga gw pengen rapihin rambut gw yang udah mulai amburadul. Biasanya sih gw bela-belain ke salon Cristopher di Graha Cijantung atau yang di Blok M. Tapi karena sudah jam 8 malem, dan pengen coba salon lain, akhirnya gw masuk deh ke Yopie Salon disono.

Begitu yang mau motong rambut tampangnya kayak preman dan jungkies, gw dah ragu kalo potongannya bakalan bagus. Seperti biasa, mau dipotong kayak gimana, trus gw bilang aja kayak gini, tapi dipendekin.

Bener deh, begitu gunting bermain, firasat gw dah gak enak. Yang pertama kali dipotong sampe pendek banget adalah bagian tengah kepala, sampai akhirnya tuh rambut gak bisa tidur lagi :(. Dari sini ketahuan kalo dia mau bikin potongan rambut gw gaya anak2 muda sekarang. OMG! Gw dah bangkotan kali, dah gak pantes jadi ABG.

Terus bagian depan bener2 di pertahankan supaya gak dipotong, walhasil, gaya gw JRock banget! Gw bilang, bagian belakang juga di pendekin aja, di cepak. Dan prosesnya bener-bener menyebalkan. Tuh orang bukannya nyocokin dengan bentuk kepala gw dan motong pelan2 atau gmana gitu, dia mah langsung mangkas abis rambut belakang dan diatas kuping gw! Hasilnya, bener-bener kepala gw kayak duren!

Bagian depan belum juga dipotong, jadi tambah aneh, langsung aja gw bilang, dipendekin juga. Eh, malah dipangkas abis juga. Jadilah kepala gw mirip Durian Monthong. Disisir gak bisa, di pakein Gel, malah makin tajem jadinya, duuuh, malu banget nih di kantor.

Dah gitu harganya tergolong mahal lagi. Menyebalkan.

Sambil bayar, gw bilang ke ce gw, not recomended.

Moral of story, jangan coba-coba deh kalau potong rambut, soalnya gak bisa di undo. Kalo yang motongnya tampangnya kayak preman or jungkies, mendingan panggil polisi sekalian.

About

Black Listed adalah kategori baru dimana saya menempatkan berbagai macam hal yang tidak saya sukai atau yang telah mengecewakan saya. Berbagai hal yang ada di sini tidak terikat oleh ruang dan waktu.